Kamis, 02 Juni 2016

Berita Songket Aceh dalam Keprihatinan


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info berita sekitar Songket Aceh yang dalam
Keperihatinan)
_______________________________________________________









___________________

Kata Pengantar
___________________

Ehem begitu-lah kehidupan ini berlangsung...!

Disuatu masa bisa jadi hasil karya dari suatu daerah sedemikian
terkenalnya, tapi di masa yang lain nyaris tak terdengar kabar
beritanya.

"Jika dikata hidup segan mati tak mau" akan memberi kesan kurangnya
kesopanan dan jika dikata, "Cukup sukses dan membanggakan" orang
lain tidak percaya.

Dengan tampa mengurangi rasa hormat pada rakyat Aceh, khsusnya
para pengrajinnya penulis ingin berkata, "Payah songket Clean-ba...!"
Entah apa saja kerja Clean disana...?

Jangan Tari Saman aja Clean urus, urus juga yang lain. Tari
Saman itu sudah cukup sukses la itu, apalagi kalau sudah dicatat
sama UNESCO, sudah Cle'an tarikan pula hingga memecahkan Rekor
MURI.

Tak ingin apa Cle'an Tenun Songket Aceh ini di catat juga sama
UNESCO...? Tak ingin apa Clean mengalahkan Ulos / Tenun Batak
sebagai tenun terpanjang di Dunia...?

Para kawan sekalian...!

Berikut info kutipan berita sekitar Tenun Songket Aceh yang
menurut hemat penulis cukup memperihatinkan dimasa kini.

Selamat menyimak...!

________________________________________________________

Kutipan Berita  Songket Aceh Dalam Keprihaninan
________________________________________________________

















KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Rumoh Teupeuen (Rumah Tenun) milik Nyak Mu alias Mariamu Ali,
perajin sekaligus pelestari songket Aceh legendaris yang wafat
dalam usia 73 tahun pada 2009, terbengkalai, Sabtu (16/1/2016).

Rumah Tenun itu berada di Gampong (Kampung) Siem, Kecamatan
Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.


KAIN songket Aceh merupakan kain yang sarat makna. Lewat
motif-motitnya, kerajinan tangan itu menjelaskan falsafah
hidup masyarakat Aceh yang terkenal religius. Kain tersebut
pun menjadi bagian sakral dalam acara budaya setempat,
seperti pernikahan adat Aceh.

Namun, keberadaan songket Aceh kian terancam seiring minimnya
minat generasi muda dan perhatian pemerintah terhadap
peninggalan leluhurnya itu.

Sabtu (9/1/2016), Kompas mengunjungi Gampong (Kampung) Siem
di Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, pusat kerajinan songket Aceh.









Di sana, terdapat Rumoh Teupeuen (Rumah Tenun) milik Nyak Mu
alias Mariamu Ali, perajin sekaligus pelestari songket Aceh
legendaris yang wafat dalam usia 73 tahun pada 2009.

Nyak Mu memulai usaha tenun songket pada 1973. Ia belajar
tenun songket dari neneknya yang juga perajin songket.
Rumoh Teupeuen dibangun Dinas Perindustrian Aceh pada 1981.

Gampong Siem berjarak sekitar 15 kilometer (km) ke arah timur
dari Banda Aceh. Setiba di Gampong Siem, kondisi tempat
kerajinan itu jauh dari ekspektasi. Tempat itu sepi dan
sunyi, tidak ada aktivitas apa pun. Pintu tempat itu
tertutup rapat.

Dari luar, tempat yang berupa bangunan kayu satu lantai
berukuran 10 meter x 4 meter dan tinggi 3 meter itu berdebu
dan di sana-sini dindingnya berlubang dimakan rayap. Di
sekitarnya, rumput liar tumbuh tak beraturan, tanda sudah
lama tak dijamah.

Setelah berulang kali Kompas mengucapkan salam, keluar
laki-laki kurus tinggi dari rumah yang berada di depan
tempat kerajinan itu. Laki-laki tersebut bernama Aswadi (45),
dia adalah anak bungsu dari lima anak Nyak Mu. Dengan
ramah, Aswadi menyambut dan mengajak Kompas melihat ke
dalam tempat kerajinan itu.

Di dalam, tempat itu lebih memprihatinkan. Lima alat tenun
terbengkalai, tidak ada lagi untaian benang yang menggantung
di atasnya. Langit-langit tempat itu banyak berlubang
akibat dimakan rayap dan lembab oleh air hujan.

Ada benda-benda usang di sana, antara lain dua papan nama
peserta didik angkatan 1996 dan 1997, serta bingkai
penghargaan Wali Kota Banda Aceh untuk Nyak Mu sebagai
pelestari songket Aceh pada 1992. Benda-benda itu menjadi
saksi bisu, tempat itu pernah berjaya.








”Dulu, puluhan orang membuat songket di sini. Namun,
jumlahnya terus berkurang dari tahun ke tahun. Pasca
meninggalnya Nyak Mu, tempat ini tak beraktivitas lagi,”
ujar Aswadi.

Cucu pertama Nyak Mu, Fajrina (30), mengisahkan, Rumoh
Teupeuen pernah menjadi pusat kerajinan songket di Aceh,
terutama pada 1980-1990-an.

Kala itu, tempat tersebut memiliki 40-60 perajin songket.
Produknya dijual dan dipamerkan di Jakarta, Bali, Sri Langka,
Singapura, dan Malaysia. Wisatawan domestik dan mancanegara
pun berdatangan.

”Selain itu, tempat ini pernah melatih tenun songket kepada
ratusan perempuan dari Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya,
dan Aceh Timur,” kenangnya.

Namun, memuncaknya konflik di Aceh pada akhir 1990-an membuat
perajin tak leluasa membuat songket. Satu per satu perajin
menghilang karena takut dengan suasana yang mencekam.

Pasca konflik, kondisi tak kunjung membaik. Hanya lima
perajin bertahan. ”Mereka memilih membuat songket di
rumahnya dengan alat yang kami pinjamkan,” kata Fajrina.

Regenerasi









Masalah baru timbul, regenerasi perajin songket sulit. Jarang
anak muda tertarik mengenal, bahkan menjadi perajin songket.
Menenun songket dikenal banyak makan waktu, sekitar 1 bulan
menyelesaikan selembar kain berukuran 1,95 meter x 1,10 meter.

Penghasilan perajin songket pun dianggap tak menjanjikan.
Ongkos produksi tak sebanding harga jualnya, yakni modal
Rp 600.000-Rp 1 juta untuk membuat selembar kain, sedangkan
harga jual Rp 1 juta-Rp 2 juta per lembar. Upah buruh pembuat
songket Rp 175.000-Rp 250.000 per orang per lembar.


KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Perajin membuat songket di Desa Mireuk Taman, Kecamatan Darussalam,
Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (8/1/2016). Industri tekstil
Aceh mengalami hambatan untuk berkembang lebih baik, terutama
kerajinan tenun songket dan bordir khas Aceh.

Itu terjadi karena keterbatasan bahan baku yang membuat perajin
tak dapat berkreasi lebih baik. Minat generasi muda untuk
mengenal dan menekuni kerajinan songket juga terus berkurang.
Fajrina mengatakan, perajin songket pun kesulitan bahan baku.

Dahulu, bahan baku benang sutra berasal dari pabrik lokal di
Lamtamot, Aceh Besar. Belakangan pabrik itu tutup karena konflik.

”Akhirnya saat ini, bahan baku 100 persen dari luar Aceh, seperti
benang sutra dan polister sebagai bahan utama kain, serta benang
emas/perak untuk membuat motif dipesan dari Medan (Sumatera Utara),
Jakarta, dan India,” ujarnya.

Harga bahan baku dari luar Aceh lebih mahal 10-20 persen.
Seorang perajin songket Aceh sekaligus murid Nyak Mu, Jasmani (50),
mengatakan, hal itu membuat perajin tidak berani berkreasi membuat
produk turunan kain songket, seperti dompet dan peci.

Perajin fokus membuat kain. Ketergantungan bahan baku dari luar
juga sering menghambat produksi karena bahan lambat datang.

”Kami berharap pemerintah bisa memastikan ketersediaan,
bahkan subsidi bahan baku,” ujarnya.








Wakil Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Aceh Ellita mengatakan, untuk pelestarian, pihaknya berupaya
menyosialisasikan dan melatih cara tenun songket ke generasi
muda ataupun ibu rumah tangga di Aceh setiap tahun.

Namun, program itu bertahap karena anggaran terbatas. Mereka pun
menyediakan galeri di setiap kantor dekranasda di Aceh untuk
membantu pemasaran dan promosi songket Aceh.

”Selain itu, kami terus berupaya mendorong pemerintah menarik
investor mendirikan pabrik bahan baku tekstil di sini,” katanya.

Dosen sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilp  
    $       sitas
Syiah Kuala, Husaini Ibrahim, mengatakan, budaya membuat songket
berkembang di Aceh sejak abad ke-18 pada masa Kesultanan Aceh
Darussalam. Hal itu dipengaruhi budaya menenun orang India yang
banyak datang berdagang di Aceh.

”Budaya membuat songket berkembang di Aceh Besar, Aceh Barat,
dan Pidie. Gampong Siem diperkirakan menjadi pusat kerajinan
songket sejak abad ke-18,” katanya.

Songket Aceh berciri khas perpaduan tiga warna, yakni kuning/
emas melambangkan kejayaan, merah melambangkan keberanian,
dan hijau melambangkan kemakmuran.

Songket Aceh memiliki motif sesuai falsafah hidup masyarakatnya,
seperti awan berarak yang berarti masyarakat Aceh menjunjung
tinggi kebersamaan dan gotong royong.


KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
Jasmani Daud (50), penenun songket Aceh.








Hingga kini, songket menjadi pelengkap pakaian adat Aceh yang
sering digunakan dalam hajatan besar. Walau tidak wajib, songket
pun menjadi benda sakral yang perlu ada dalam serah-serahan
pernikahan adat Aceh.

Husaini berharap pemerintah meningkatkan perhatian untuk
melestarikan songket Aceh. Hal itu mendesak agar senja kala
songket Aceh cepat berlalu dan segera diterangi mentari pagi
yang terang benderang. (ADRIAN FAJRIANSYAH)

__________

Penutup
__________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Dan jika kawan dalam hal ini adalah masyarakat Aceh, maka
cobalah kawan melakukan sesuatu untuk membuat songket Aceh
ini lebih maju. Jangan cuma bertahan kalau bisa.

Asal Cle'an tahu...!

Cukup banyak masyarakat di Nusantara ini menantikan Songket
Aceh dalam suatu pagelaran busana Nusantara.

Kalau bukan Cle'an yang utama melestarikannya, siapa lagi.


Trims pada ADRIAN FAJRIANSYAH yang mengurai mengenai masalah
songket Aceh ini.

Selamat malam...!










_______________________________________________________________
Cat :
http://travel.kompas.com/read/2016/01/22/172000027/Senja.Kala.Songket.Aceh?page=all
DETaK TRAVEL - TENUN SONGKET KHAS ACEH - YouTube
Jasmani Daud, Tertatih Menjaga Tenun Songket Aceh - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=u1ONAtLJGYE