Jumat, 24 Juni 2016

Tenun Pandai Sikek dan Sejarahnya


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Pandai Sikek sebagai Wilayah
dan Nama taenun Sumatra Barat)
____________________________________________________

__________________

Kata Pengantar
__________________

Lewat link :
......
penulis mengurai mengenai Tenun Silukkang Sumatra Barat.

Nah...!

bagimana dengan Tenun Pandai Sikek-nya...?

Berikut infonya para kawan.

...dan...

Selamat menyimak...!




_________________________________________________

Sekilas Pandai Sikek sebagai Wilayah
_________________________________________________










* Pengertian

Pandai Sikek merupakan salah satu nagari yang termasuk
ke dalam wilayah kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten
Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Nagari ini terletak di dekat Batusangkar, ibu kota dari
kabupaten Tanah Datar. Nagari Pandai Sikek juga dikenal
sebagai tempat pengrajin tenun, dan ini diapresiasikan
oleh pemerintah Republik Indonesia dalam gambar mata
uang pecahan Rp 5.000 emisi 1999-saat ini.


* Sejarah








Berdasarkan sejarahnya (Barih Balibeh) pasukuan di
Nagari Pandai Sikek pada mulanya hanya terdiri dari
ampek suku (empat suku) yaitu:

Koto
Guci
Sikumbang
Pisang

Kemudian dalam perkembangan populasi penduduk, maka
suku Koto dipecah menjadi empat suku, dan datang
beberapa suku yang lain sehingga saat ini di Nagari
Pandai Sikek terdapat tujuh suku dan lebih dikenal
dengan sebutan Urang nan Tujuah Suku Salapan indu yaitu:

Koto Sungai Guruah
Koto Tibalai
Koto Limo Paruik
Koto Gantiang
Guci
Sikumbang
Pisang
Panyalai dan Jambak

Kemudian dari Urang nan Tujuah Suku Salapan indu
tersebut lahirlah istilah Pangulu nan Anam Puluah
(Penghulu yang enam puluh) yaitu :

Koto Sungai Guruah pangulu nan sapuluah - 10 Penghulu
Koto Tibalai pangulu nan batujuah - 7 Penghulu
Koto Limo Paruik pangulu nan batujuah - 7 Penghulu
Koto Gantiang pangulu nan barampek - 4 Penghulu
Guci pangulu nan sapuluah - 10 Penghulu
Sikumbang pangulu nan sambilan - 9 Penghulu
Pisang pangulu nan sambilan - 9 Penghulu
Panyalai dan Jambak pangulu nan barampek - 4 Penghulu

Namun saat ini Koto Gantiang Pangulu nan Barampek
bergabung dengan Koto Sungai Guruah Pangulu nan
Sapuluah, sedangkan Panyalai dan Jambak bergabung
Guci. Sehingga kalau dijumlahkan penghulunya menjadi 52.

*  Perekonomian

Di nagari ini yang menjadi sumber pendapatan primadona
bagi masyarakat setempat adalah sebagai pengrajin tenun
atau songket. Motif-motif kain tenun di nagari ini
selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih
tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai
pakaian pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi
lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai
tando dan dipajang juga pada waktu batagak (mendirikan)
rumah. Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai
motif asli pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan
Pandai Sikek pada zaman lampau.



_________________________________________________________

Sekilas Pandai Sikek sebagai Nama Tenun Sumatra Barat
_________________________________________________________








Tidak ada sejarah yang pasti tentang kapan tenun songket mulai
dikembangkan di Minangkabau atau di Pandai Sikek. Akan tetapi
kepandaian menenun tetuntulah sudah dibawa oleh nenek moyang
kita bangsa Austronesia atau yang disebut juga Malayo-Polynesia,
dari Tanah Asal, ketika terjadi migrasi besar-besaran penduduk
dari daratan Asia ke arah selatan dan timur beberapa ribu tahun
yang lalu, bersamaan dengan segala kepandaian yang esensial
untuk kehidupan, seperti kepandaian bercocok tanam, kepandaian
membuat dan menggunakan alat-alat pertanian dan pertukangan dan
senjata, dan sebagainya.

Sesuai dengan fitrah manusia, kepandaian dasar pertukangan
tentu mengalami pengkayaan estetika sehingga menjadi apa
yang sekarang dikenal dengan istilah kerajinan, dan kemudian
menjadi seni.

Hal ini sejalan dengan perkembangan di bidang ekpresi lainnya
seperti seni gerak, seni suara dan seni pementasan. Sebagai
warisan demikian, tenun bisa dikatakan sama umurnya dengan
stelsel matrilinial orang Minang, terukaan sawah di Luhak
nan Tigo, dan budaya lisan Kato Pusako pepatah petitih.

Di sini juga kita menemukan kesamaan rumpun Austronesia
pada kain tenun Sumatra pada umumnya dengan seluruh kain
tenun Nusantara hingga ke Sumba dan Timor, juga dengan
tenunan La Na di Thailand utara dan Laos.

Rumpun ini akan memecah nanti di lihat dari segi kahalusan
motif setelah masuknya kebudayaan India dan Cina dari utara.
Akan tetapi kesamaannya beretahan di segi peralatan tenun
dan teknik bertenun.









Beberapa ratus tahun yang lalu, di hulu sungai Batanghari,
yang disebut Sungai Dareh, berkembang suatu pemukiman dan
pusat perdagangan yang makmur.

Penduduk dari daerah yang sekarang disebut Alam Surambi
Sungai Pagu, dan dari daerah-daerah yang lebih ke utara lagi,
datang ke tempat ini untuk menjual hasil-hasil alam berupa
rempah-rempah dan emas.

Daerah ini dikunjungi pula oleh pedagang-pedagang yang
datang dari seberang laut, dari India dan Cina. Kaum
wanita di daerah ini memakai pakaian yang lebih cantik
bagi ukuran masa itu, istilah sekarang: lebih fashionable.

Daerah ini kemudian terkenal dengan nama kerajaan Darmasyraya.
Inilah cikla-bakal kebudayaan Melayu. Bertahun-tahun daerah
ini menjadi titik pertemuan ekonomi dan budaya antara
kebudayaan-kebudayan yang sudah lebih kaya dan maju di
utara, Cina, Mongol dan India, dengan budaya lokal.

Dalam kurun beberapa puluh tahun itu, atau mungkin sampai
dua ratus tahun, setalah mengalami pergantian raja-raja
dan penguasa, penduduknya menyerap banyak ilmu dan
teknologi dari bangsa asing, disamping kemajuan bidang
ekonomi dan politik yang memperkaya dan meningkatkan
mutu kebudayaan lokal. Diantara kemajuan yang dialami
adalah dalam bidang pakaian dan teknik bertenun,
beserta pengkayaan corak motif dan bahan-bahan yang
dapat dipergunakan.

Kalau sebelumnya, sesuai dengan perkembangan masyarakat,
orang membuat pakaian dari benang yang dibuat dari bahan-
bahan yang tersedia di tempat pemukiman mereka, seperti
serat kulit pohon, dengan perkembangan perdagangan orang-
orang India memperkenalkan bahan dari serat kapas dan
linen, juga benang yang disalut dengan lempengan emas
tipis.

Pedagang Cina membawa benang sutra yang berasal dari
kepompong ulat sutra, juga benang yang dibungkus dengan
emas kertas kemudian dikenal dengan nama emas prada
sehingga bisa diperkirakan bahwa pedangang India pun
banyak memperdagangkan bahan tersbut.











Pada tahun 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan
dan kebudayaan Melayu dari Darmasyraya ke Pagaruruyung,
dan kawasan di sekitar gunung Merapi dan Gunung Singgalang
yang pada waktu itu terdiri dari Luhak nan Tigo dan
Rantaunya yang Tujuh Jurai, menjadi terkenal sebagai
Alam Minangkabau, dengan beberapa pusat pemerintahan
yang tersebar di Pariangan, Sungai Tarok, Limo Kaum,
Pagaruryung, Batipuh, Sumanik, Saruaso, Buo, Biaro,
Payakumbuh, dan lain-lain.

Alam Minangkabau dengan falsafah alam yang dianut
masyrakatnya, alur dan patut serta alam takambang jadi
guru, sangat memberi peluang bagi tumbuh dan berkembangya
kebudayaan dan kesenian dengan pengkayaan dari unsur-unsur
budaya asing.

Susunan masyarakat yang bersuku-suku eksogami dan, yang
lebih utama lagi, aturan sumando manyumando, telah
mengeliminir konflik antar kelompok sehingga kedamaian
dapat terwujud dalam jangka waktu yang panjang dan
memberi kesempatan bagi anak nagari untuk memperlajari
dan memperhalus ilmu-ilmu dan keterampilan termasuk
keterampilan bertenun.

Daerah Batipuh, sebagai salah satu pusat pemerintahan,
kedudukan Tuan Gadang Batipuh sebagai Harimau Campo Koto
Piliang, dapat diduga menjadi salah satu daerah yang amat
penting pada masa kejayaan Minangkabau dahulu, bersama
daerah-daerah lain yang tersebut diatas.

Sejalan dengan keadaan itu, masyarakatnya tentu mandapat
kesempatan yang lebih banyak pula untuk melakukan kegiatan
ekonomi dan budaya termasuk keterampilan tenun sehingga
mutu dan corak kain tenun semakin tinggi dan halus.

Gadis-gadis menenun kain sarung dan tingkuluk dengan
benang emas untuk dipakai ketika mereka menikah, dan
perempuan lainnya menenun kain untuk dijual.

Adat istiadat di Minangkabau mendorong kegiatan bertenun
ini lebih jauh lagi karena pada setiap kesempatan upacara
adat, kain tenun selalu wajib dipakai dan dihadirkan.

Kata-kata adat dinukilkan di dalam nama-nama motif sehingga
menjadi buah bibir dan diucapkan setiap saat. Kain tenun
menjadi pakaian raja-raja, datuk-datuk dan puti-puti.

Dimasa inilah, dimasa kejayaan Turki Usmani dan Asia
Tengah, pada puncak kebesaran Dinasti Mongol di India
ketika Sultan Akbar, 1556-1605 sangat memajukan seni
dan ilmu pengetahuan, pada masa kejayaan Dinasti Ming
dan Manchu di Cina: ketika itu pertukaran perdangangan
dan budaya sedang sangat pesat dan melibatkan Minangkabau
sebagai suatu kawasan yang menjadi lintasan perdagangan
dan juga negri yang mempunyai komoditi dagang yang penting
yaitu rempah-rempah dan emas, seni menenun kain dangan
sutra dan benang emas di Sumatra, bersamaan dengan suji
dan sulaman pun mencapai puncak kemajuannya dan menemukan
ciri khasnya tersendiri.

Hampir semua pelosok Minangkabau, dari Luhak sampai ke rantau,
mempunyai pusat-pusat kerajinan tenun, suji dan sulaman.
Masing-masih mengembangkan corak dan ciri-cirinya sendiri,
hal yang sangat dikuasai oleh para pedagang barang antik
dan kolektor.

Beberapa nagari yang terkenal sekali dengan kain tenununya
dan sangat produktif pada masa itu adalah Koto Gadang,
Sungayang, dan Pitalah di Batipuh, dan nagari yang
melanjutkan tradisi warisan menenun hari ini adalah
nagari yang termasuk Batipuh Sapuluh Koto juga yaitu
Pandai Sikek.

Motif-motif kain tenun Pandai Sikek selalu diambil dari
contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan
sering dipakai sebagai pakain pada upacara-upacara adat
dan untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat,
misalnya sebagai “tando,” dan juga dipajang atau
digelar pada waktu batagak rumah.

Sulit mengatakan siapa yang dapat dikatakan sebagai
master tenun hari ini; tetapi diantara ahli tenun
yang terkenal pada generasi sebelum kita ada nama-nama
Sari Bentan, Namun, Salamah di Baruah; Nuriah, Ipah,
Pasah, Nyiah dan Jalisah di Tanjung.

Ada belasan orang master tenun di Pandai Sikek pada
zaman itu. Akan tetap kira-kira seratus tahun yang
lalu diyakin beberapa wanita Pandai Sikek sangat aktif
dibidang usaha dan kerajinan menenuni ini sehingga
nama julukan mereka yang terambil dari peralatan tenun
lebih dikenal sampai sekarang. Diantaranya, dikenal
nama-nama Inyiak Makau di Tanjuang, Inyiak Suri di
Koto Tinggi, Inyiak Banang, dan Inyiak Karok.










Pandai Sikek, sebagai “center of excellece” di bidang
tenun songket waktu itu, tentu wanita-wanitanya sudah
mengerjakan juga berdasarkan permintaan tenunan yang
khas dari daerah-daerah lain seperti dari Pitalah di
Batipuah, Koto Gadang di Agam dan dari Sungayang dengan
corak benang dan motif yang spesifik dengan daerah
tersebut, dan dikenal sampai sekarang sebagai motif-
motif Sungayang, motif Koto Gadang dan lain-lain.

_______________

Penutup
_______________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!








_____________________________________________________________
Cat :
REPORTASE CERITA KOTA PANDAI SIKEK SUMATERA BARAT - YouTube
Pandai Sikek Nagari Wisata - YouTube
TOPIK ANTV Rumah Tenun Pusako, Pandai Sikek - YouTube