Kamis, 18 Agustus 2016

Tenun Alor / Watublapi NTT dan Penemuan 200 lebih Pewarna Tenun


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Tenun Alor - Nusa tenggara Timur)
_________________________________________________________











_____________

Pengantar
_____________

Seperti yang kita ketahui, salam pembuka untuk masyarakat
Batak adalah "Horas". Bagaimana dengan salam pembukanya
orang Alor NTT. Apakah istilahnya...?

Apa-pun istilahnya, anggap salam itu telah disampaikan
untuk anda. Begitupun...! Nanti saya cari sendiri bunyi
salam itu. Biasanya ada-nya itu di Kamus Daerah Bahasa
NTT. Iyakan...?

Para kawan dimana-pun berada...!

Kalau soal urusan Tenun, "Memang hebat-lah Daerah NTT itu,
tak terkecuali yang dari Pulau Alornya". Kalau dibanyak
tempat di Nusantara, Tenun teradisonal-nya telah terkesan
seperti ditinggalkan pengrajinnya, karena urusannya terlalu
repot ditengah kemajuan teknologi masa kini, maka tidak

demikian halnya dengan Tenun NTT.

Tenun NTT ini memberi kesan, "Kalau mau maju kau Zaman,
maka majula-lah Zaman. Tapi kami di NTT tetap mempertahankan
cara Tradisonal nenek moyang kami dalam bertenun. Kami
tak perduli, apakah cara bertenun kami ketinggalan jaman'
atau tidak.

Kawan-kawan sekalian...!

Didaerah mana-lah di Nusantara ini yang penduduknya masih
mencari pewarna yang alami untuk tenunnya. Bagus di cari
di Tanah Abang Jakarta. Pewarna apa-pun ada di situ, kalau
soal kainnya.

Tapi tidak pula dengan Tenun NTT ini, "Justru mereka
temukan tambahan pewarna alami tenun tersebut, kalau
dulunya, nenek moyang mereka hanya mengetahui 7 pohon
atau daun atau ranting yang dapat dijadikan pewarna,
justru sekarang mereka dapat temukan, "200 lebih pewarna
alami kain Tenun". Luar biasa bukan...?

Ini artinya...!

Semakin sempurna-lah, Tenun-nya Tenun Flores itu. karena
banyaknya macam pilihan warna.

Ini juga artinya...!

"Tak mereka butuhkan itu Teori warna yang mengatakan, jika
warna ini dicampur dengan warna itu, maka akan dapat warna
ini itu" dengan catatan, jangan lupa jumlah persennya.

Para kawan sekalian...!

Berikut info "Tenun Alor NTT" dengan fokus pada penggunaan
pewarna alaminya, sedangkan hasil tenunnya telah pernah
penulis posting lewat link Tenun Ikata NTT.

Selamat menyimak...!

Bersama macam Animasi Tenun dari Alor ata-pun dari
Watublapi NTT.
____________________________________________________

Sekolas info Tenun Alor - Nusa tenggara Timur
____________________________________________________












Judul :
Berkat Ketekunan, Pengrajin Tenun Ikat Asal Alor 
Masuk Rekor MURI


TERNYATA, untuk menemukan sesuatu yang bermanfaat tidak
perlu berpendidikan. Tapi cukup dengan ketekunan melakukan
banyak percobaan, maka bisa ditemukan banyak hal yang
dibutuhkan banyak orang.

Sariat Libana (44) adalah satu di antaranya. Pengrajin
tenun ikat dari Desa Ternate, Kabupaten Alor, Nusa
Tenggara Timur ini telah berhasil menemukan bahan-bahan
yang bisa dijadikan sebagai zat pewarna pada benang-benang.







Ia menemukan itu setelah terus mencoba semua jenis tumbuh-
tumbuhan dan beberapa jenis biota laut selama setahun.

“Dulu, pengrajin tenun ikat di daerah saya biasanya mewarnai
benang-benang menggunakan nila, mengkudu dan biji asam.

Tapi sekarang mereka bisa memakai akar kayu kuning, kulit
mangga, kulit asam, daun pepaya, daun gala-gala, kolam
susu, pucuk jati, kutu lak, rumput laut dan tinta
cumi-cumi” kata Libana di Hula.







Kain tenun merupakan pakaian khas masyarakat Kabupaten
Alor. Foto: Iwan Nampira.

Menurut Libana, bahan-bahan tersebut sangat baik digunakan
untuk mewarnai benang-benang kedalam sejumlah warna.
“Jadi masing-masing bahan dapat menghasilkan banyak
jenis warna. Tergantung cara mengolahnya,” sebut
perempuan yang mulai menenun sejak kecil ini.









Atas temuannya itu, Libana masuk dalam rekor MURI sebagai
satu-satunya penemu pewarna terbanyak untuk tenun ikat.

Selain rekor MURI, Libana juga menyabet juara III Lomba
Tenun Bali Nusra Tangi pada 2009. Oya, ia juga mendapat
penghargaan dan apresiasi yang diberikan oleh Kementerian
Perindustrian atas dedikasinya terhadap tenun serat dan
warna alam Indonesia.








Dampak dari prestasi-prestasi itu, ia kerap diundang ke
beberapa daerah sebagai narasumber bagi pengrajin lain
seperti di Jakarta, Bali, Manado dan terakhir di Maumere.

Di kota-kota itu, Libana mengajari bagaimana membuat warna
dari bahan-bahan yang telah disebutkan di atas kepada
para peserta. “Di Maumere jumlah pesertanya mencapai
seribu orang,” pukasnya.









Tidak hanya itu, Libana juga berhasil merintis sejumlah
motif tenun ikat. Motif-motif yang ditemukannya sangat
bervariasi, seperti lobster, gurita, moko, gong, ular,
fatola, buah kenari, kapas, ikan, cumi-cumi, gajah,
kura-kura, kepiting dan beberapa yang lain.

Libana menciptakan motif-motif itu karena ia menyadari
bahwa tenun ikat merupakan seni mengolah benang.







Karena itu ia ingin bebas mengekspresikan apa yang ada
dalam benaknya. Padahal sebelumnya, di desa asalnya,
para pengrajin tenun telah terbiasa memakai motif yang
sudah ada sejak lama yakni motif Fatola.

“Saya ingin adanya variasi motif. Sehingga para pembeli
bisa memilih sesuai selera. Saya tidak ingin terikat
pada motif yang sudah turun temurun, tapi saya ingin
menciptakan motif,” pukasnya.

Libana mengaku menekuni tenun ikat sejak 2010. Dengan
dibantu 10 karyawan, kini, ia telah memiliki 61 karyawan.

Pada 2013 lalu, mereka kemudian mendirikan koperasi tenun
ikat bernama Koperasi Gunung Mako.









Menurutnya, koperasi tersebut sangat bermanfaat bagi
anggota-anggotanya. Tenunan-tenunan yang diselesaikan,
dipajang di kantor koperasi untuk dijual. Koperasi
tersebut sudah dikenal, sehingga tidak sulit untuk
dijangkau oleh para wisatawan mancanegara, domestik,
maupun lokal.

http://www.rumahgudang.com/berkat-ketekunan-pengrajin-tenun-ikat-asal-alor-masuk-rekor-muri/

____________

Penutup
____________








Demikian infonya para kawan sekalian...!

Dan jika ini mau disampaikan pada semua pengrajin Tenun
Nusantara, maka penulis ingin berkata, "Belajar pada para
pengrajin Tenun Alor NTT, kalau soal perwarna tenun".
Mereka adalah ahlinya.

Kalau mereka pelit sama ilmunya, maka menyamar-lah Cle'an
ke Alor NTT. Cl'ean curii Ilmu pewarnannya, pohon, daun
atau ranting apa yang mereka buat. Karena besar kemungkinan
apa-pun yang jadi isi alam Pulau Alor, sama juga dengan isi
Alam pulau lainnya di Nusantara. Paling namanya saja yang
berbeda-beda.

Jika sudah dapat Ilmunya, maka pulang-lah kedaerahnya dan
kembangan lagi Ilmu pewarna tenun ini.

Bagaimana...?

Apakah Cle'an merasa terlalu kasar istilah "Mencuri Ilmu...?"
Kalau begitu, ganti dengan istilah, "Study Banding".

Khusus untuk orang Batak yang tinggal di NTT, akal-akali
Cle'an-la dulu, bagaimana caranya biar Ilmu warna-mewarnai
ini dapat di tranfer ke Tanah Batak.

Masa kami yang harus datang ke sana...!
Ongkos udah berapa...?

...dan...dan..dan-dan-dan...

Kalau bisa, transfer juga Putri NTT itu ke Tanah Batak, biar
kita bikin dia punya anak. Nanti kalau sudah besar, kita
didik anak kita ini jadi petinju, "Bapak Batak, ibunya Flores".

Apa tak hebat itu...!
Hebat la itu...!
Siapa bilang tak hebat.


Selamat malam...!

















___________________________________________________________________
Cat :
WA 0812-900-64949 - Model Baju Tenun Modern, Tenun Ikat NTT - Amazing ALOR - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=AIAY03_sRnI
Mama Sariat, Pembuat Warna Alami untuk Kain Tenun dari Pulau Alor - NET 12 - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=Yffl0IkSDYs
Keunikan Tenun Ikat Watublapi Khas NTT - IMS - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=1EiP0z1jTE0